TUGAS MANDIRI 14

 

NAMA:MUHAMMAD UMAR KHAIRI NIZAR

NIM:43125010268

 

Refleksi Integritas dan Kejujuran sebagai Mahasiswa dan Calon Profesional

Pendahuluan

Bagi saya, integritas bukan sekadar kata yang sering diucapkan dalam slogan atau aturan tertulis, melainkan sikap batin yang menuntun seseorang untuk tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat. Integritas berkaitan erat dengan kejujuran, konsistensi antara apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Dalam konteks sebagai mahasiswa, integritas menjadi fondasi penting karena dunia akademik tidak hanya menilai kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan etika seseorang.

Kejujuran di bangku kuliah sangat krusial karena kampus merupakan miniatur dunia profesional. Kebiasaan kecil yang dianggap sepele, seperti mencontek, titip absen, atau menyalin tugas tanpa mencantumkan sumber, sesungguhnya dapat membentuk pola perilaku jangka panjang. Jika sejak mahasiswa seseorang terbiasa mengabaikan integritas, maka di masa depan ia berpotensi melakukan pelanggaran yang lebih besar. Oleh karena itu, refleksi mengenai integritas dan kejujuran menjadi penting sebagai proses evaluasi diri sekaligus komitmen moral.

Batang Tubuh

Dalam kehidupan akademik, godaan untuk bersikap tidak jujur sering kali muncul dalam berbagai bentuk. Tekanan akademik, tuntutan nilai, keterbatasan waktu, serta pengaruh lingkungan menjadi faktor yang menguji integritas mahasiswa. Saya sendiri pernah berada dalam situasi di mana integritas diuji, misalnya ketika tenggat tugas sangat dekat sementara pemahaman materi belum maksimal. Pada kondisi tersebut, menyalin pekerjaan orang lain atau mengambil sumber dari internet tanpa mencantumkan referensi tampak seperti jalan pintas yang mudah.

Namun, pada saat-saat seperti itulah kejujuran diuji. Saya menyadari bahwa memilih jalan pintas mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi mengorbankan nilai moral dan proses belajar itu sendiri. Keputusan untuk mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri, meskipun hasilnya tidak sempurna, justru memberikan kepuasan batin dan rasa tanggung jawab. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa integritas bukan tentang hasil akhir semata, melainkan tentang proses yang dijalani dengan jujur.

Fenomena lain yang sering ditemui di kampus adalah praktik titip absen atau kerja sama yang tidak semestinya saat ujian. Banyak mahasiswa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar karena dilakukan secara kolektif. Padahal, normalisasi ketidakjujuran ini berbahaya karena mengikis kepekaan moral. Jika pelanggaran kecil terus ditoleransi, maka batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dalam jangka panjang, budaya ini dapat merusak kredibilitas institusi pendidikan dan kualitas lulusan.

Jika refleksi ini diperluas ke kehidupan bermasyarakat, tantangan integritas menjadi semakin kompleks. Ketidakjujuran tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga sistemik. Kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, penyebaran hoaks di media sosial, serta manipulasi informasi menunjukkan bahwa integritas masih menjadi persoalan serius. Banyak orang tahu bahwa tindakan tersebut salah, namun tetap melakukannya karena dorongan kepentingan pribadi, tekanan ekonomi, atau lemahnya penegakan hukum.

Menurut pengamatan saya, salah satu alasan mengapa integritas sulit ditegakkan di masyarakat adalah karena kejujuran sering kali tidak diberi penghargaan yang layak. Dalam beberapa kasus, orang yang jujur justru dianggap naif atau kalah bersaing dengan mereka yang menggunakan cara-cara tidak etis. Selain itu, rendahnya keteladanan dari figur publik membuat masyarakat kehilangan panutan. Ketika ketidakjujuran dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan, kepercayaan publik pun terkikis.

Fenomena hoaks juga mencerminkan krisis integritas di ruang publik. Banyak orang menyebarkan informasi tanpa memverifikasi kebenarannya, baik karena kurang literasi digital maupun demi kepentingan tertentu. Dampaknya tidak hanya menyesatkan, tetapi juga memicu konflik dan polarisasi di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa integritas tidak hanya berkaitan dengan kejujuran personal, tetapi juga tanggung jawab sosial dalam menggunakan informasi.

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa apa yang terjadi di masyarakat seharusnya menjadi cermin untuk memperkuat komitmen terhadap integritas sejak dini. Kampus merupakan ruang yang relatif aman untuk belajar bersikap jujur sebelum terjun ke dunia kerja yang penuh tantangan dan kompromi moral. Jika integritas tidak dilatih sejak sekarang, maka akan semakin sulit mempertahankannya ketika dihadapkan pada tekanan profesional.

Penutup

Dari refleksi internal dan pengamatan eksternal tersebut, saya menyimpulkan bahwa integritas dan kejujuran merupakan nilai fundamental yang harus dijaga secara konsisten, baik di lingkungan akademik maupun di masyarakat. Integritas bukanlah pilihan situasional, melainkan prinsip hidup yang menuntut keberanian untuk tetap berada di jalur yang benar meskipun tidak selalu menguntungkan.

Sebagai rencana aksi pribadi, saya berkomitmen untuk menjaga integritas dalam setiap peran yang saya jalani setelah lulus nanti. Langkah konkret yang akan saya ambil antara lain bekerja secara profesional dan transparan, menolak praktik-praktik tidak etis meskipun berada di bawah tekanan, serta terus mengembangkan kompetensi agar tidak tergoda mengambil jalan pintas. 

Comments

Popular posts from this blog

E26muhammadumarkhairinizar

E26muhammadumarkhairinizar

TUGAS MANDIRI 2